Minggu, 08 Juli 2012

Sialan..!!


“Ikut k’jkarta yuk!”
“Ga da wit”
“Duit buat apa?”
“Mank mu nek mtor..??”
“Cm k’kost ni. Ydh klo mw naek motor, yah naek motor ”
”ya ga da wit. Klo dtnya buat pha mank ga ongkos? Mk’a nanya juga mank naek motor?”
“Kirain pngen jlan2. Mw d kost aja kok. Bs brngkt pagi ga?”
“Mu ngapain, cee..??”
“Mksud’a?? Ya biar Deri bisa kuliah jam 10’a”
“Nginep..?? Ya k Jkrta tuh mank mu paen..??”
“Nggak ngpa2in, ya di kost aja brdua. Ya klo nggak mu jg gpp”
“Nggak mu!”
“Okkeh. Ga asik!”
“Ya pain cb jauh2k Jkarta klo cmmu ngbrol d rmh jg bs!”
“Ya klo d kostn bebas bisa peluk n cium km”
“Jelek bgd tuh niat!”
                Najis lohhhh..!!
Berapa kali sih udah dibilang, lupain perasaan itu..!! Loe tau nggak yang nggak asik! Seenaknya aja loe sms begitu. Cewek loe jha tuh ajakin..!!

Gini nih yang bikin males ngobrol ma kamu lagi. Itu lagi..itu lagi yang dibahas. Kalo emang kamu cowok bae-bae, silahkan dateng ke rumah minta ijin sama orang tua klo mank mu ngajak keluar. Tapi nggak buat niat yang satu itu..!!

Kemana sih kamu yang dulu..??
Biasanya juga kalo mank mau ngobrol langsung maen ke rumah. Kalaupun sampe mau ngajak jalan juga kamu ijin dulu ke ibu. Sekarang apa?? Kelakuan da kayak setan, loe..!! Pagi-pagi bikin jelek mood.

Sabtu, 07 Juli 2012

Seru-seruan ikut ayah jadi Fasilitator

       Kalau nggak salah, ini kedua kalinya aku ikut ayah  ke lokasi outbound yang ada di pabriknya. Di sana ayah sebagai instruktur, jadi setiap hari sabtu biasanya ayah nggak libur karena harus ada di sini. Liat kaos yang aku pake. Itu seragam Fasilitator punya ayah. Pantes aja bikin peserta bingung, diikira fasilitator tapi kok nggak ada tampang sama sekali. Hehheee..


       Ayah nggak suka pelit ngajak anaknya buat ikut ke tempat kerjanya. Waktu aku kecil dulu, sering banget yang namanya ikut masuk kantor tempat ayah kerja. Makanya, kebanyakan temen ayah kenal betul seorang Ayu.

       "Ya ampuuuun! ini Ninuk yaa?? Udah gede ajaa. Sekarang kelas berapa?".

       Begitlah kira-kira sapaan pertama mereka kalau tahu aku ada di kantor ayah. Oia, Ninuk itu nama panggilanku waktu kecil. Karena sering dimomong dengan nyanyian 'nang ning ning nang ning nuuuung', akhirnya banyak yang panggil aku Ninuk. Nyambung nggak sih..??

        Sekolah..?? Aku udah kuliah lhooo.. Mentang-mentang badanku emang nggak bisa lebih tinggi dikit ama lebih gemuk, pasti pada nyangka kalau aku masih sekolah.

       Tapi karena aku juga sekarang punya ade, jadi nggak cuma aku aja yang biasanya diajak ke pabrik. Termasuk waktu pertama kali diajak ke lokasi outbound, ayah juga ngajak adikku. Tapi waktu itu aku ataupun adikku nggak ada yang ikut manjat-manjat. Baru yang kedua kalinya ini aku ikut naik-naik kayak kirdun.

       Outboundku kali ini kebetulan si ade lagi nggak ikut. Dia lagi di pondok, karena emang udah waktunya dia buat masuk sekolah. "Liat aja nanti ade pasti marah-marah kalau liat poto outboundnya". Hehhheee..kayak nya sih bener apa kata ibuku ini. Secara dia juga belum ngerasain gimana ikut naik.

       Lumayan lahhhh..
      Hehhheee..seneng bisa nyelesaiin semu tantangannya. Tinggal Cano yang belum aku coba. Bikin perahu apung dari tong-tong biru besar yang dirakit. Terus lomba ngedayung, habis itu sampai tengah-tengah danau perahu yang dibuat dari tong-tong besar tadi sengaja diombang-ambing sama para fasilitator biar perahu goyang terus ada peserta yang nyemplung. Hahhaaa..seru deh kayaknya. Sayang kemarin aku nggak ada persiapan baju. kalaupun mau nekat ikut, sudah pasti bakal basah kuyup.

      Lain kali bakal aku coba ikut Cano..!!

Jumat, 06 Juli 2012

CiDaHa..


   

"Kenapa sih harus lagu ini terus yang dinyanyiin tiap kamu maju ke depan kelas?" 
Pasti jawabannya selalu sama..
"Nggak ngerti sama judulnya, ya? Gue nggak bakal berhenti nyanyiin ni lagu kalau dia nggak juga mau ngasih jawaban ke gue"
oOo
Sekali..dua kali.. bahkan sampai empat kali, aku memang membiarkannya larut dalam pertanyaan. Sampai sebanyak itu dia mengungkapkan perasaannya untukku dan berharap aku mau menerimanya lebih dari teman. Di rumahku saat liburan untuk pertama kalinya dia berkunjung kerumahku dan untuk pertama kalinya pula lah ia saat itu mencoba memintaku untuk menerimanya, namun aku hanya membalasnya dengan gurauan.
Kedua kalinya, ia mencoba meminta kepastianku kembali dengan cara mengirimiku sms. Dia mencoba untuk berbincang serius denganku. Ia juga sempat katakan bahwa, mungkin ia boleh saja gagal menyatakan perasaannya saat berada di rumahku karena gugup. Tapi sekali lagi, entah kenapaaku memang tak pernah bisa menganggap pembicaraannya itu serius.
Di ruang komputer, sekali lagi dia mencoba untuk mencuri-curi kesempatan. Dengan sebatang Chunky yang ia letakan di mejaku, dia kembali berusaha dan mencoba untuk meyakinkanku. Aku pikir tadinya ada seseorang yang salah menaruhnya di mejaku, ternyat tidak setelah beberapa saat ia datang menghampiriku.
"Apaan lagi, nih?" tanyaku.
"Iniii..adaaa..coklat" jawabnya dengan nyengir ala kuda.
"Iya, gue juga tau! Maksudnya apaan? valentine udah bulan kemaren, kali!"
"Bukaaaann.."
"Terus?"
"Gue mau minta jawaban loe"
"Itu lagi?"
"Kalau loe ambil coklat ini, berarti loe terima gue and mau jadi cewe gue. Tapi kalo loe nggak ambil coklat ini, berarti loe tolak gue and nggak mau jadi cewe gue" jelasnya mencoba untuk memberikan pilihan.
"Kok aneh sih? Loe niat kasih gue coklat, nggak?"
"Ya iya lahhh..Tapi loe pilih salah satu pilihan tadi dulu, yaa.." sekali lagi dengan senyuman mautnya.
"Ya ampuuunn.. masalahnya gue mau coklatnya, tapi kalo gue ambil coklat berarti gue jadian ma loe? Ogahhh..gimana, donk? Gue mau coklatnya aja, nggak mau jadian ma loe tapi.." sekarang aku yang berbalik memberinya senyum menawanku.
oOo
Yaa..kasian juga, sih liat dia berkali-kali harus terus berusaha begitu. Tapi harus gimana lagi? Sebelumnya aku sudah coba memberi tahu alasanku untuk tidak bisa menerima perasaannya."Gue udah punya cowo" bisikku ke arahnya saat guru fisikaku menuliskan deretan rumus di papan tulis. Tapi sekali lagi, bukan Emon namanya kalau kehabisan akal. Dia tak pernah menyerah untuk berusaha mendapatkanku.
Dan untuk keempat kalinya, dia benar-benar menyempatkan waktu dengan sangat tepat. Kembali mengungkapkan perasaan saat kelas kami mengadakan pekan santai di Dufan. Mungkin bagi sebagian teman perempuanku, mereka menganggap ini adalah hal yang paling romantis yang pernah dilakukan oleh anak-anak pondok seperti kami. Dapat berkumpul dengan santri putri dalam satu tempat kalau tidak di dalam kelas dan event-event tertentu itu sudah tidak mungkin. Dan pekan santai ini, salah satunya yang memang harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.
Tiba-tiba aku di pisahkan oleh Windi dari teman-temanku. Ia Berjalan sedikit cepat dengan terus menggandengku menuju ke sebuah wahana yang tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Tepat di sebelah wahana Poci-poci, aku melihat tiga orang teman laki-laki kelasku sudah berada di sana termasuksalah satu diantaranya adalah si kepala batu yang akhir-akhir ini selalu saja muncul di hadapanku. Sudah bisa ditebak, apa maksud dari rencana mereka ini.
"Kalian di sini aja, jangan kemana-mana! Nanti kalau keadaan darurat, gue Reza ma Windi bakal tepok-tepok tangan sekenceng mungkin" pesan Kindi salah satu teman kelasku yang berusaha mensukseskan misi kali ini.
Benar saja tebakanku. Aku diseret kemari emang untuk ini semua. Sekali lagi dia berusaha untuk memintaku jad pacarnya. Benar-benar nggak ada nyerahnya ini anak!
"Enggak.."aku tersenyum garing
"Apanya yang enggak?" tanyanya kaget
"Gue..nggak bisaaa..jadiiii..cewek loooee.." dengan sedikit memperpanjang jawaban, aku mencoba untuk bisa menjelaskan jawabanku.
Saat itu juga, ekspresi wajah penuh semangatnya langsung berubah lesu.
oOo
Tanpa menunjuk lansung orang yang dimaksud, sontak saja semua maa menjurus padaku saat itu. Rasanya seperti semua menyalahkanku dan sangat menyayangkan apa yang sudah aku perbuat belakangan ini. Mungkin mereka menganggapku sudah tega menjahati cowo berbadan tambun yang saat ini berada di depan kelas.
"Mending sekarang loe maju aja deh, Nes!" teriak salah satu teman laki-laki kelasku.
"Iya,loe maju aja sana, mumpung Bu Meli nggak ada!" tambah Windi yang ikut kesal.
"Tapi buat ap.." belum selesai aku bicara, dua orang temanku Riska dan Nida menyeretku ke depan kelas.
"Gue udah punya cowok di luar sana," ujarku coba untuk menjelaskan keadaan yang semakin memojokkanku.
Dan untuk kelima kalinya,
“Gue serius, Nes..Gue bener-bener berharep loe bisa jadi cewek gue! Gue nggak peduli loe udah punya cowok di luar sana, gue yakin gue yang bisa bikin bahagialoe..”
“Haahhh..???”


      

Rabu, 04 Juli 2012

Foto-foto sebagian ekskul Daar El Qolam





























Pondok Pesantren Daar El Qolam

Sigap (Rabu, 4 Juli 2012): Kelompok Marching Band menampilkan aksinya pada acara Apel Tahunan Khutbatul Arsy menyambut kedatangan santriwan dan santriwati baru di Pondok Pesantren Daar El Qolam 1  

       Kurang lebih sudah dua tahun menjadi alumni, tak serta merta membuatku bisa melupakan salah satu kegiatan tahunan ini. Apel Tahunan Khutbatul Arsy. Acara yang sengaja digelar setiap tahunnya untuk menyambut sekaligus memperkenalkan pondok pesantren kepada santriwan dan santriwati baru.

       Awalnya aku mengira kegiatan ini sebagai penyambutan akan adanya HUT RI, ternyata tidak. Kegiatan ini khusus diadakan oleh mereka para santriwan dan santriwati untuk menyambut kedatangan santri baru sebagai adik kelas mereka sekaligus mengenalkan kepada mereka yang baru mengenal pondok pesantren atau bahkan belum mengenal sama sekali Daar El Qolam.

       Acara biasanya akan dilaksanakan tepat pukul tujuh pagi. Biasanya para santri sudah menyiapkan diri dan tiba di lapangan tiga puluh menit sebelumnya untuk menyiapkan barisan mereka masing-masing, namun sebelumnya diwajibkan untuk mereka semua sarapan terlebih dahulu untuk menghindari santri yang jatuh pingsan saat pelaksanaan apel. Barisan dibedakan menurut tingkatan kelas. Aturan barisan biasanya dimulai dari bagian paling utara untuk kelas satu (satu SMP) dan berurutan terus untuk kelas berikutnya semakin ke selatan sampai pada kelas enam (tiga SMA), untuk santriwati. Dan sebaliknya untuk santriwan yang juga turut berbaris rapi tepat di sebrang santriwati berbaris. Dan untuk para guru (Asatidz) sudah dipersiapkan kursi-kursi yang sudah tertata rapi pada lantai dua dan tiga gedung M. Natsir, menghadap ke arah sebelah selatan.

       Dalam acara ini, biasanya akan diawali dengan penyambutan dari pemimpin pondok pesantren kepada para santri baru, selanjutnya pembacaan sejarah berdirinya pondok, pelafalan panca jiwa pondok dan moto pondok, dan pengenalan pondok lainnya.

       Sebagai penutup acara, biasanya akan diadakan doa bersama terlebih dahulu yang dipimpin langsung oleh pemimpin pondok ataupun pengasuh pondok. Barulah setelah itu akan diadakan penampilan-penampilan dari setiap ekstrakulikuler yang menunjukan ketangkasan mereka masing-masing. Mulai dari basket, futsal, senam, pramuka, marching dan lain-lain. Semua penampilan yang ditampilkan, sudah pasti ada maksudnya yaitu memperkenalkan berbagai kegiatan ekstrakulikuler yang difasilitaskan bagi mereka para santri pondok pesantren. Dan untuk penampilan marching seperti yang ada pada gambar di atas adalah sebagai salah contoh satunya.

       Karena itu, jangan takut ketinggalan jaman kalau kalian diminta untuk sekolah di sebuah pondok pesantren. Karena seperti pondok pesantrenku ini, tak kalah majunya dengan sekolah-sekolah umum lainnya di luar sana. Mulai dari Aula, Kantin, Klinik pengobatan, Lapangan olahraga, Laboratorium bahasa-komputer-IPA, Perpustakaan, Beasiswa, percakapan juga berbahasa formal Inggris-Arab, yang membantu kita untuk melafalkan dan tidak hanya secara teori bahasa di kelas.

       Ijazah juga sudah diakui negara, lhoo..!! Jangan takut nggak diterima di luar sanaaa..
 Nggak ragu deh pokoknyaaaa..!!

Selasa, 03 Juli 2012

Jangan Paksa Aku..

Sebenernya, kangen kamu tuh udah pasti..
sebenernya, pengen ketemu kamu tuh udah pasti..

Tapi kenapa, yaa..
Kamu nggak juga bisa hilangin kebiasaan kamu yang sekarang. Selalu coba bahas-bahas perasaan kamu ke aku. Udah jelas sebenarnya, kamu lho udah punya cewek.. Tapi kenapaa...??

Yang aku bingungin, berawal dari satu kata juga satu tanda tanya..
'Kenapa?'
Kenapa baru sekarang?
Kenapa nggak dari dulu-dulu?
Kenapa nggak pernah kamu bilang sebelumnya?
Kenapa semua baru jelas ketauan sekarang?

Kemana aja kamu waktu itu? Kenapa itu semua baru sekarang kamu bilang? Baru kamu ungkapin? Baru kamu nyatain? Baru kamu akuin?? Kenapa baru sekarang??

Kamu bilang kamu sayang ke aku?
Kamu bilang kalau kamu mau hubungan kita lebih dari temen?
Kamu bilang kamu mau aku bales perasaan kamu?
Kamu  bilang aku nggak  pernah ngertiin perasaan kamu, karena aku yang sekarang nggak pernah bales perasaan kamu?

Pleaseee...
Kemana aja kamu waktu itu?
Kemana aja kamu waktu aku nunggu kamu ungkapin perasaan itu?
Setahun..dua tahun aku nunggu, tapi apa..??
Setiap hari sama aja! Setiap jalan biasa aja!
Sama sekali nggak ada yang beda!
Sama sekalinggak ada yang spesial!

Baru sampe sejauh ini kamu baru bilang ke aku, kamu baru nyatain itu semua,kamu baru akuin?
Dengan alesan kamu takut, apa cukup..??
Sekarang kamu hadir lagi dengan terus terusan minta aku buat bisa terima kamu?

Maaf..
Aku bukan aku yang dulu lagi,
Aku bukan orang yang dulu nantiin kamu,
Kamu juga sebenarnya udah ada yang lain, aku nggak mau dia kecewa gara-gara aku.
Aku nggak mau dianggep sebagai pengganggu hubungan orang lain
Cukup ngerti aja, gimana rasanya ditinggalin orang yang kita sayangi demi cewe lain, Sakit Gilaaa..!!
Sekarang loe secara nggak langsung mu jadiin w sebagai cewe perebut cowo orang??
Ogaahh!!

Ayooo lahhh..
Kita ngeFriend nggak da salahnya, khan..??
W mau kita yang dulu,

Minggu, 01 Juli 2012

Balasan itu..

Pelajaran Hari Ini..

"Mendapat balasan atas perasaan sayang yang kita miliki untuk orang lain ternyata tak mudah, tak seperti bagaimana mudahnya kita menyayanginya"

Aku pernah menginginkan balasan atas perasaan sayangku untuk seseorang, walaupun sebenarnya hanya rasa sakit yang aku terima saat itu. Ternyata sulit, membuat orang lain memahami dan mengerti apa yang sedang kita rasakan. 

Aku memang sempat dekat denganmu dulu dan aku tidak memungkiri akan perasaan senangku yang aku rasakan dulu. Tapi itu semua bukan berarti aku masih bisa menerima dan memiliki perasaan yang sama dengan apa yang kamu rasakan sampai saat ini. Mungkin kamu memang masih bisa merasakan dan memiliki perasaan itu untukku sampai saat ini tapi maaf, itu tidak denganku.

Kalau saja dulu, dari awal kau sudah mengatakannya mungkin itu semua masih bisa terjadi. Tapi apa yang terjadi saat itu? Kau bahkan tak pernah sedikit pun mengakui perhatianmu yang kau berikan untukku. Baru saat ini kau mau mengatakan semuanya.

Kau bilang kalau kamu sayang?
Maaf, bukannya aku tak percaya karena selama ini aku hanya selalu mengabaikan dan menghindari pembicaraan terkait hal ini. Aku hanya tak ada niat. Aku sama-sekali tak bisa merasakan apa yang kamu maksud dengan rasa sayangmu itu.

Kamu sadar? Saat ini kau sudah bisa kembali dengan pacarmu yang dulu sempat kau putuskan. Ingat kan? Dulu kita sempat dekat karena kau yang sempat kecewa dengannya. Kau bilang, dia hanya memanfaatkanmu selama ini. Tapi ternyata kamu bisa kembali lagi, bukan? Lalu kenapa saat ini kau malah memintaku untuk membalas perasaannmu?

Maaf, aku tidak bisa. Aku sama sekali tidak ada perasaan lebih untukmu. Aku bahkan membencimu yang belakangan ini hanya bisa membicarakan hal yang sama. Itu..dan itu lagi.. Aku tidak suka!

Aku tidak mau salah langkah lagi. Sudah cukup rasanya buatku ditinggalkan orang yang aku sayangi untuk orang lain yang mungkin bisa lebih membuatnya bahagia dibanding aku. Kamu tahu rasanya? Sakit! Setiap hari aku selalu mencoba melupakannya, namun apa? Semakin aku coba malah tak bisa sehari pun aku untuk tidak mengingatnya. Karena itu, aku tak mau orang lain merasakan hal yang sama. termasuk dia wanita yang pernah mengkhianatimu sekalipun.

Karena itu, tetaplah berusaha menjaga hubungan kalian berdua. Aku belum tentu orang yang kamu cari. Aku bukan berarti satu-satunya orang yang bisa membuatmu bahhagia. Maafkan aku yang mungkin kau anggap tak pernah mau mengerti perasaanmu. 

Tetaplah menjadi seorang sahabat untukku, tidak lebih. Dan jangan sekali pun kau bicarakan hal ini lagi!